Rabu, 12 Januari 2011

Zapin, Seni Tari Melayu Empat Negara

Dalam setiap perhelatan resmi pemerintah dan warga di Provinsi Kepri, tak lengkap rasanya bila tidak disuguhi tari zapin. Tari tersebut secara umum melukiskan masyarakat Melayu tempo dulu yang hidup dalam kesederhanaan, mempertahankan kesusilaan, religius, dan menghormati orang yang lebih tua.

Meski demikian, setiap gerakan hampir selalu memiliki makna tertentu sebagai wahana pembelajaran bagi masyarakat Melayu. Zapin terdiri dari empat langkah, yang melambangkan sifat Rasulullah Muhammad SAW dari setiap geraknya.

Langkah itu merupakan syariat, yang bertalian dengan ruh yang menegakkannya. Setiap langkah zapin memunyai bunga zapin. Bunga zapin ada 13 gerak, yakni sebagai lambang rukun sembahyang sebanyak 13, yang diakhiri dengan pecah lapan sut, artinya mengakhiri mengambil air sembahyang.

Bungo alif ialah awal membuat bungo (bunga), terdiri dari 13 bungo. Setiap bungonya mengandung makna tertentu.

Bungo alif zapin ialah bungo alif, geliat, pusing tengah, siku keluang, pusing sekerat, anak ayam patah, pecah lapan, pusing tak jadi, tongkah (melawan arus), tahto terjun, sut tiga kali depan, sut maju mundur, dan pecah lapan sut.

Saat zapin ditarikan, lagu dinyanyikan bait per bait. Di antara bait satu lagu ke bait lainnya, penabuh marwas mengeraskan permainannya, yang disebut dengan santing atau doguh.

Dalam istilah musik, disebut dengan forte (dibunyikan dengan suara keras). Maknanya sebagai lambang mengambil semangat atau naik syeikh bagi penari zapin.

Tari zapin tradisional diiringi dengan lagu-lagu khusus rentak (tempo) zapin, seperti lagu Naam Saidi, Pulut Hitam, Gambus Palembang, Tanjung Balai, Sahabat Laila, Lancang Kuning, Kak Jando, Sayang Cek Esah, Rajo Beradu, Ya Malim (Zapin Bismillah), dan Bungo Cempako.

Sementara itu, pemetik gambus – biasanya sekaligus menjadi penyanyi – membawakan lagu dengan memakai birama 4/4, kecuali birama 3/4 dalam Zapin Ya Umar yang sudah langka dan tidak dipakai lagi lantaran susah dan tidak ada lagi penari maupun penyanyi yang dapat memainkannya.

Pada mulanya, zapin tradisional (terutama di Siak dan Pekanbaru) ditarikan oleh dua lelaki. Dalam perkembangannya, setelah keluar dari istana, penarinya melebihi dua orang.

Bahkan tidak lagi hanya memakai penari lelaki, tetapi sudah ditarikan oleh perempuan atau campuran laki-laki dan perempuan. Zapin dahulu atau sebelum 1960- an, ditarikan hanya oleh laki-laki yang dalam setiap gerakannya menyimbolkan perlindungan seorang laki laki terhadap perempuan.

Hal itu sesuai dengan falsafah tari tersebut yang bersumber dari Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa lelaki adalah khalifah atau pemimpin yang harus melindungi kaum yang lemah.

Lazimnya, perempuan adalah kaum lemah yang senantiasa mendapat perlindungan dari laki-laki. Namun, ketika zapin ditarikan oleh pasangan lelaki dan perempuan, sosok perempuan dalam gerak tari zapin menggambarkan seorang pendamping laki-laki yang religius.

Itu tampak dari gerak kaki yang tidak terlalu luas, juga gerak tangannya yang tidak terlalu tinggi, menggambarkan bahwa perempuan harus mempertahankan kesusilaannya dan harus selalu hormat pada laki-laki.

Gambaran Keceriaan

Koreografer tari Melayu, Nizar Sani, mengatakan seni tari zapin juga melukiskan kehidupan kaum muda etnis Melayu yang penuh dengan keceriaan. Itu terlihat dari entakan tangan dan kaki yang sangat dinamis.

Tari itu juga menggambarkan religiusitas masyarakat Melayu, terlebih zapin berasal dari bahasa Arab, yakni zafn, yang artinya pergerakan kaki cepat, mengikuti rentak pukulan.

Pada mulanya, zapin hanya dibawakan untuk kalangan tertentu, yakni kalangan istana raja, di rumah tengkutengku, keturunan bangsawan, dan kerabat kerajaan atau pejabat-pejabat tinggi kerajaan.

Setelah berakhirnya abad Kerajaan Siak, barulah zapin ditarikan di luar istana, dan berkembang hingga ke masa kini. Meskipun menghibur, tarian itu juga bersifat edukatif sekaligus sebagai media dakwah Islamiyah.

Hal itu tampak dari syair lagu-lagu zapin yang didendangkan dengan alat musik petik gambus dan tiga alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Marwas, atau disebut juga dengan meruas atau merwas, adalah alat musik jenis gendang yang berfungsi sebagai pengatur tempo atau rentak.

Dalam satu ensembel musik zapin, biasanya memakai tiga marwas. Sebagai pengatur tempo alat musik, marwas juga digunakan untuk mengiringi tari zapin bersamaan dengan alat musik gambus selodang, yang di Semenanjung Arabia disebut ‘ud.

Seniman Kepri, Hoesnizar Hood, mengatakan tari zapin saat ini lebih berkembang di Malaysia ketimbang di Indonesia. Menurut dia, banyak koreografer di Malaysia seperti Mohd Anis Md Noor mengembangkan tari zapin menjadi komoditas yang memiliki nilai tinggi.

Tari tersebut tidak hanya dikenalkan di sekolah-sekolah, tetapi sudah dipertandingkan antar perusahaan pada 2002. “Zapin Malaysia bisa berkembang pesat karena memiliki pasar,” kata Hoesnizar.

Oleh karena itu, untuk mengimbangi klaim Malaysia terhadap tari azapin yang diakui berasal dari Kepri, pada 2006, pemerintah menggelar Bintan Zapin. Meski demikian, permasalahan tari zapin berbeda dengan reog, yang sekitar 150 tahun lalu dibawa masyarakat Jawa ke Malaysia.

Dijelaskan, ketika Kerajaan Riau- Lingga hancur, para abdi kerajaan hijrah ke Johor, Malaysia, dan mengembangkan berbagai kebudayaan Melayu di Malaysia. Padahal, tari zapin berasal dari Arab yang dibawa para pedagang ke Indonesia.

Kedua negara (Indonesia dan Malaysia) sama-sama memiliki pengaruh Islam yang kuat, dan tari zapin di Kepri dan Malaysia sama-sama berkembang pada masa kejayaan Kerajaan Melayu.

Koreografer Malaysia, Anis, telah menerbitkan buku Zapin Melayu di Nusantara pada 2000 sehingga kemungkinan Zapin diklaim menjadi milik Malaysia bisa saja terjadi.

“Malaysia dan Kepri itu bertetangga, dan samasama rumpun Melayu,” ungkapnya. Perkembangan Reog Ponorogo dipengaruhi budaya Hindu. Malaysia tidak bisa mengklaim reog miliknya karena pengaruh Hindu tidak sampai di Malaysia.

Bagi Hoesnizar, siapa pun yang memiliki zapin tidak menjadi permasalahan, asal zapin bisa dipertahankan dan dikembangkan. Kenyataan yang ada saat ini, pasar Indonesia maupun Kepri belum bisa menerima tari zapin.

Sementara itu, budayawan Kepri, Bhinneka Surya alias Tok Mok, khawatir tari zapin pesisir milik Kepri akan diklaim Malaysia. Soalnya, sejak 1998, pihak Malaysia berupaya mempelajari dan berusaha merebut tari zapin dari Indonesia.
gus/L-1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar